BINTUNI-INSPIRATOR PAPUA– Kecintaan terhadap budaya daerah tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Hal itulah yang ditunjukkan oleh Roy Marthen Masyewi,putra asli Wamesa dari tujuh suku Teluk Bintuni yang dikenal masyarakat dengan julukan “Anak Cawat”. Selain mengemban amanah sebagai anggota DPRk Kabupaten Teluk Bintuni,dari Partai Amanat Nasional (PAN), Roy juga aktif melestarikan seni dan budaya warisan leluhur.
Kepercayaan masyarakat yang mengantarkan Roy duduk di kursi parlemen menjadi tanggung jawab besar untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat adat. Ia berkomitmen membangun komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat agar berbagai kebutuhan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pelayanan publik, dapat diakses secara merata oleh seluruh masyarakat di wilayah Teluk Bintuni.
Kepada wartawan Inspirator Papua yang di temui Selasa (4/8/2026) di kediamannya kampung Tahiti,mengatakan bahwa Sebelum dipercaya menjadi wakil rakyat,saya sebagai seorang tenaga pendidik sangat memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya lokal. Semangat tersebut tetap saya pertahankan hingga kini. Di sela-sela kesibukannya sebagai anggota DPRK,Roy memanfaatkan waktu luang dengan membuat berbagai kerajinan tangan khas tujuh suku, seperti mahkota adat, alat musik tifa, dan perlengkapan budaya lainnya yang biasa digunakan dalam upacara adat maupun penyambutan tamu kehormatan yang berkunjung ke Teluk Bintuni.
Menurut Roy, menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadi cara untuk memperkenalkan identitas masyarakat adat kepada generasi muda. Ia berharap anak-anak muda tidak malu mengenakan atribut adat, memainkan alat musik tradisional, maupun mempelajari nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
Selain menjadi bentuk pelestarian budaya, hasil kerajinan tersebut juga memiliki nilai ekonomi. Roy menjelaskan bahwa karya-karya seni yang dibuatnya dapat dipasarkan kepada masyarakat maupun para pengunjung, sehingga mampu menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Hal ini membuktikan bahwa budaya dapat menjadi sumber kesejahteraan apabila dikelola dengan baik tanpa menghilangkan nilai-nilai keasliannya.
Roy juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan warisan budaya tujuh suku Teluk Bintuni. Budaya bukan hanya identitas suatu daerah, tetapi juga kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga, dipelihara, dan diwariskan kepada generasi penerus agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Dengan mencintai, mempelajari, dan terus mempraktikkan seni budaya daerah, kita turut menjaga jati diri bangsa serta menghormati warisan leluhur yang telah menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.”pungkasnya”(BEN)


















